Saturday, April 26, 2014

PERTANYAAN TENTANG STUDI KASUS ARTALITA

Sehubungan dengan hipotesa dari studi kasus Artalita, maka pertanyaan saya :
1.   Apakah alat ukur yang digunakan untuk mengukur bukti di lapangan sudah valid? Karena apabila bukti di lapangan diragukan validitas dan reliabilitasnya, maka untuk membuktikan bahwa kasus tersebut merupakan konspirasi hukum sangat lemah. Untuk mengukur besar kecilnya dana tidak disebutkan menggunakan alat ukur seperti apa. Studi kasus seringkali dipandang kurang ilmiah atau pseudo-scientific karena pengukurannya bersifat subjektif atau tidak bisa dikuantifisir.
2.   Apakah ada dasar teori kuat yang mendukung bahwa memang ciri-ciri kasus konspirasi hukum atau perdagangan dapat dibuktikan seperti yang tertera di tabel? Bisa saja hanya berdasar asumsi dari masing-masing pihak yang terkait, baik pihak KPK ataupun pihak Artalita sendiri. Asumsi juga bisa berasal dari kebiasaan di masyarakat dan bukan merupakan sesuatu yang pasti. Hal ini terlihat misalnya pada ciri-ciri kasus "berapa besar dana yang ditransaksikan?" dan "kapan waktu transaksi dilakukan?". Hal ini tidak berdasarkan teori yang kuat, hanya berdasar asumsi apabila diluar jam kerja maka dianggap konspirasi hukum dan apabila dilakukan di jam kerja maka dianggap kasus perdagangan. Banyak para pakar yang percaya bahwa  konspirasi atau persekongkolan terjadi hanya apabila ada dukungan argumentasi yang kuat, fakta akurat, data ilmiah, pendapat yang bisa diverifikasi kebenarannya. Hal ini juga nantinya yang akan menentukan rekomendasi berat atau ringannya hukuman yang akan diterima oleh Artalita.
3.   Jika dalam proses perjalanan , peneliti menemukan bukti-bukti baru yang lebih mendukung kearah hipotesa baru, apakah bisa dilakukan perbandingan terhadap ketiga komponen tersebut?

Terimakasih.

Nama              : Ajeng Choirin
NIM                :13/357327/PKU/14094

Job satisfaction among public health professionals working in public sector: a cross sectional study from Pakistan

Peneliti :
Ramesh Kumar * , Jamil Ahmed , Babar Tasneem Shaikh , Rehan Hafeez dan Assad Hafeez

References yang diambil oleh peneliti sebagai berikut:
1.     Hafeez A, Khan Z, Bile KM, Jooma R, Sheikh M: Pakistan human resources for health assessment. East Mediterr Health J 2010, 16(Suppl):S145–S151.
2.     Robbins SP, Judge TA: Essentials of Organizational Behavior. 9th edition. Upper Saddle River: NJ: Prentice Hall; 2008.
3.     Haas JS, Cook EF, Puopolo AL, Burstin HR, Cleary PD, Brennan TA: Is the professional satisfaction of general internists associated with patient satisfaction? J Gen Intern Med 2000, 15(2):122–128.
4.     Bodur S: Job satisfaction of health care staff employed at health centres in Turkey. Occup Med (Lond) 2002, 52(6):353–355.
5.     Kekana HP, du Rand EA, van Wyk NC: Job satisfaction of registered nurses in a community hospital in the Limpopo Province in South Africa. Curationis 2007, 30(2):24–35.
6.     McManus IC, Keeling A, Paice E: Stress, burnout and doctors' attitudes to work are determined by personality and learning style: a twelve year longitudinal study of UK medical graduates. BMC Med 2004, 2:29.
7.     Visser MR, Smets EM, Oort FJ, De Haes HC: Stress, satisfaction and burnout among Dutch medical specialists. CMAJ 2003, 168(3):271–275.
8.     van den Berg TI, Alavinia SM, Bredt FJ, Lindeboom D, Elders LA, Burdorf A: The influence of psychosocial factors at work and life style on health and work ability among professional workers. Int Arch Occup Environ Health 2008, 81(8):1029–1036.
9.     Bresic J, Knezevic B, Milosevic M, Tomljanovic T, Golubic R, Mustajbegovic J: Stress and work ability in oil industry workers. Arh Hig Rada Toksikol 2007, 58(4):399–405.
10.  Makowiec-Dabrowska T, Koszada-Wlodarczyk W, Bortkiewicz A, Gadzicka E, Siedlecka J, Jozwiak Z, et al: Occupational and non-occupational determinants of work ability. Med Pr 2008, 59(1):9–24.
11.  Price JL: Reflections on the determinants of voluntary turnover. Int J Manpower 2001, 22(7):600–624.
12.  Ahmed J, Shaikh BT: An all time low budget for health care in Pakistan. J Coll Physicians Surg Pak 2008, 18(6):388–391.
13.  Smith SC: Happiness at work: it's an inside job! Insight 2002, 27(1):3–4.
14.  Ayers K: Creating a responsible workplace. Hum Resour Mag 2005, 50. No.2 available at: http://www.shrm.org/Publications/hrmagazine/PastIssues/2005/ Pages/200502.aspx.
15.  Leshabari MT, Muhondwa EP, Mwangu MA, Mbembati NA: Motivation of health care workers in Tanzania: a case study of Muhimbili National Hospital. East Afr J Public Health 2008, 5(1):32–37.
16.  von Vultee PJ, Axelsson R, Arnetz B: The impact of organisational settings on physician wellbeing. Int J Health Care Qual Assur 2007, 20(6):506–515.
17.  van Oostrom SH, van Mechelen W, Terluin B, de Vet HC, Anema JR: A participatory workplace intervention for employees with distress and lost time: a feasibility evaluation within a randomized controlled trial. J Occup Rehabil 2009, 19(2):212–222.
18.  MacDermid JC, Geldart S, Williams RM, Westmorland M, Lin CY, Shannon H: Work organization and health: a qualitative study of the perceptions of workers. Work 2008, 30(3):241–254.
19.  Martinez-Inigo D, Totterdell P, Alcover CM, Holman D: The source of display rules and their effects on primary health care professionals' well-being. Span J Psychol 2009, 12(2):618–631.
20.  Wada K, Arimatsu M, Higashi T, Yoshikawa T, Oda S, Taniguchi H, et al: Physician job satisfaction and working conditions in Japan. J Occup Health 2009, 51(3):261–266.
21.  Lima FE, Jorge MS, Moreira TM: Hospital humanization: professional satisfaction in a pediatric hospital. Rev Bras Enferm 2006, 59(3):291–296.
22.  Van Dormael M, Dugas S, Kone Y, Coulibaly S, Sy M, Marchal B, et al: Appropriate training and retention of community doctors in rural areas: a case study from Mali. Hum Resour Health 2008, 6:25.
23.  Buciuniene I, Blazeviciene A, Bliudziute E: Health care reform and job satisfaction of primary health care physicians in Lithuania. BMC Fam Pract 2005, 6(1):10.
24.  Kisa S, Kisa A: Job dissatisfaction among public hospital physicians is a universal problem: evidence from Turkey. Health Care Manag 2006, 25(2):122–129.

Berdasarkan penelusuran mengenai artikel yang saya ambil dengan judul sebagaimana saya sebutkan diatas; di kutip oleh tiga artikel, dengan judul di bawah ini :
1.      "Consequences of Organizational Communication for the Quality of Life at Work for Nurses"  Peneliti : LML Pizzoli, RCR Ugolini - communicationandhealth.ro

2. "Job satisfaction among nurses working in the private and public sectors: a qualitative study in tertiary care hospitals in PakistanPeneliti : Hamid S, AU Malik, Kamran I ... - Journal of multidisiplin ..., 2014 - ncbi.nlm.nih.gov

3. "Las odiseas de los Ulises. Estudio de los relatos de un día de trabajo yang normal del Médico de familia en Paraguay, México, Perú y EspañaPeneliti :BB Baez-Montiel, E Gutiérrez-Kepulauan ... - Perawatan Primer, 2013 – Elsevier
Nama   :   Nurindah
NIM     :   13/357401/PKU/14104

Friday, April 25, 2014

Strengthening field-based training in low and middle-income countries to build public health capacity: Lessons from Australia's Master of Applied Epidemiology program

Latar Belakang Penelitian :
Menurut Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulation), negara-negara perlu memperkuat kapasitas untuk kegiatan surveilans penyakit dan sistem respon melalui penguatan tenaga kesehatan. Salah satunya melalui program pelatihan Epidemiologi Lapangan / Field Epidemiology Training Programmes (FETPs). Banyak negara yang membangun atau meningkatkan program tersebut untuk memenuhi  peningkatan kapasitas tenaga kesehatan yang akan berdampak pada peningkatan kapasitas kesehatan masyarakat dibidang surveilans. Tetapi yang terjadi dilapangan, masih dijumpai angka kejadian penyakit menular masih tinggi terutama di negara-negara berkembang. Hal ini menjadi suatu tantangan besar untuk diketahui masalah apa yang sebenarnya terjadi dibalik fenomena ini. Program FETPs sudah dilaksanakan di banyak Negara di dunia dengan menerapkan model Public Health Schools Without Walls  yang lebih berbasis pendidikan formal di universitas (University-based) dan ditempuh selama 2 tahun dengan gelar Master of Public Health (MPH). Hal inilah yang mungkin menyebabkan pembelajaran  tidak efektif karena tidak disesuaikan dengan masalah yang ditemukan di lapangan dan lebih kepada aturan yang diterapkan global di seluruh dunia. Oleh karena itu peneliti ingin membuktikan bahwa pelatihan berbasis pendidikan formal di universitas (University-based) sangat tidak efektif apabila diterapkan di negara-negara berkembang dan ingin membuktikan bahwa field-based training dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan peningkatan kualitas dan kapasitas tenaga kesehatan di Negara berkembang.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini :
Teori yang mendasari penelitian ini:
1.      Teori Pelatihan :
a) Kirkpatrick (1994) mendefinisikan pelatihan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku dan mengembangkan keterampilan.
b)  Strauss dan Syaless di dalam Notoatmodjo (1998) mengatakan bahwa pelatihan berarti mengubah pola perilaku, karena dengan pelatihan maka akhirnya akan menimbulkan perubahan perilaku. Pelatihan adalah bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar, berguna untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu relatif singkat dan metodenya mengutamakan praktek daripada teori.

2.      Teori Field-based Training
a)      Menurut Patel dan Phillips dalam Schultz (2009)
  Field-based Training menggambarkan pada model pendidikan kejuruan daripada pendidikan profesional. Model pelatihan ini berbasis kondisi di lapangan yang responsif terhadap kehidupan nyata , kebutuhan tempat kerja dan mendorong fleksibilitas antara peserta didik dan profesionalitas yang merupakan bagian dari tim kesehatan masyarakat di tempat kerja.
b)      Menurut Matovu , dkk (2013)
    Program pelatihan berbasis kerja di lapangan sangat efektif untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia. Model pelatihan tersebut menekankan adanya kerjasama antara peserta pelatihan dengan pengajar dari universitas dan lembaga pengawas untuk menyelesaikan tugas tertentu. Pengajar diharapkan secara penuh dapat memberikan bimbingan kepada peserta. Peserta juga diberi kesempatan sesekali untuk melakukan tatap muka di kelas sebagai bagian interaktif dari program pelatihan.
Tabel Perbandingan University-based dan Field-based Training:
ASPEK
University Based (Berbasis Pendidikan Formal)
Field-based Training (Berbasis Lapangan/Tempat Kerja )
Model Pembelajaran
Teori yang diberikan di kelas terlalu banyak, sehingga menyebabkan kebosanan dari peserta dan waktu yang digunakan di lapangan menjadi berkurang. Sistem pembelajaran model ini juga cenderung menghasilkan tenaga kesehatan masyarakat yang umum dan bukan dikhususkan pada penyakit menular yang menjadi fokus utama di negara berkembang.
Teori hanya diberikan selama 3 bulan dengan cara tatap muka di kelas, selebihnya peserta kembali ke tempat kerja/ lapangan.  Peserta lebih banyak bersentuhan dengan dunia nyata di lapangan dengan pendekatan learning by doing dan problem solving. Sistem pembelajaran lebih cenderung berbasis kejuruan daripada pendidikan professional dan lebih dikhususkan kepada pemberantasan penyakit menular.
Kurikulum
Kurikulum terhambat oleh standar fakultas dan terkadang masih banyak intervensi dari negara-negara lain yang tidak sesuai dengan konteks di negara tersebut.
Kurikulum selalu beradaptasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Kurikulum akan selalu direvisi dengan melibatkan mentor dari daerah dan  organisasi profesi yang langsung terjun ke lapangan.
Pengajar/mentor
Terbatasnya SDM yang memiliki pehamahan tentang keadaan nyata di lapangan. Karena keterbatasan SDM itulah, terkadang fakultas merekrut pengajar dari negara lain yang juga tidak memahami tentang kondisi sebenarnya/ konteks di negara tsb.
Pengajar melibatkan supervisor dari lapangan/ tempat kerja peserta, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai role model, tetapi juga dapat memberikan saran, umpan balik dan dukungan yang menyeluruh kepada para peserta selama proses berlangsung.
Biaya
Biaya yang dikeluarkan cenderung besar karena selama pembelajaran di kelas , peserta tidak mendapat gaji di tempat kerja, sehingga pemerintah masih membayar.
Tidak ada biaya yang dibayarkan kepada peserta selama di tempat kerja, karena mereka sudah mendapatakan gaji. Hal ini dapat menghemat biaya pengeluaran negara.
Koordinasi dan Responsiveness
Karena pembelajaran di kelas terlalu banyak , sehingga apabila terjadi suatu wabah di daerah , peserta kesulitan untuk berkoordinasi dengan daerah dan cenderung tidak responsif (lebih kearah pendokumentasian)
Koordinasi dengan daerah lebih cepat dan Lebih responsif dalam menangani suatu penyakit, karena dari awal hingga akhir pelatihan lebih banyak terjun ke lapangan.
Brain drain (Migrasi lulusan ke luar negeri)
Tingginya angka migrasi lulusan ke luar negeri disebabkan tidak adanya pengawasan dan dukungan yang kuat dari tim supervisor daerah.
Tingkat migrasi lulusan ke luar negeri cenderung rendah, karena diawal peserta sudah didukung kuat oleh tim supervisor daerah .

H0 = Model pembelajaran yang berbasis pendidikan formal (university-based) pada program FETPs efektif untuk meningkatkan sistem survelans dan responsif di Negara berkembang
Ha = Model pembelajaran yang berbasis lapangan (field-based) pada program FETPs efektif untuk meningkatkan sistem survelans dan responsif di Negara berkembang


Nama          : Ajeng Choirin
NIM            :13/357327/PKU/14094


Hipotesis :
Jika perdagangan terjadi, besar kemungkinan dana yang ditransfer dalam jumlah yang kecil  melalui bank dan tercatat secara resmi, transaksi dilakukan jauh dari peristiwa di pengadilan, dan dilakukan secara terbuka, maka :
Ho = kasus Artalita merupakan kasus perdagangan berdasarkan jumlah dana, cara dan waktu transaksi dilakukan
Jika konspirasi terjadi, besar kemungkinan dana yang ditransfer dalam jumlah besar, transfer dananya bersifat cash – tidak tercatat dalam bentuk apa pun, terjadi dekat dengan peristiwa di pengadilan, dan dilakukan secara sembunyi­sembunyi, maka :
Ha = kasus Artalita merupakan kasus konspirasi hukum berdasarkan jumlah dana, cara dan waktu transaksi dilakukan
1.       Yang ingin tanyakan :
  • Apakah semua ciri dalam kasus ini (jumlah dana, cara dan waktu  transaksi) harus dilakukan pengujian reliabilitas variabel pengukurannya terlebih dahulu?
  • Apakah dalam pengujian statistik untuk menolak atau tidak menolak Ho tidak bisa dilakukan hanya untuk satu kasus ?
  • Untuk dikategorikan kasus konspirasi hukum atau perdagangan apakah dapat digunakan variabel-variabel yang digunakan sebagai ciri-ciri kasus dari Artalita ini untuk contoh kasus yang serupa?
enMMohon petunjuk dan terima kasih.

WESSY YULIZA
13/357561/PKU/14133
                                                                
  

pengertian Teori Berdasarkan beberapa ahli


PENGERTIAN TEORI BERDASARKAN BEBERAPA AHLI :
Tiga hal yang perlu diperhatikan jika kita ingin mengenal lebih lanjut tentang teori adalah:
  1. Teori merupakan suatu proporsi yang terdiri dari konstrak yang sudah didefinisikan secara luas sesuai dengan hubungan unsur-unsur dalam proporsi tersebut secara jelas
  2. Teori menjelaskan hubungan antar variable sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena yang diterangkan variabel-variabel tersebut dapat jelas
  3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasikan variable yang saling berhubungan.
Berdasarkan ahli :
1.      Teori adalah satu set konstruk, konsep, definisi, dan proposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan suatu pandangan yang sistematik mengenai suatu fenomena dengan menspesifikkan hubungan antar variabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena; (Wiersma, 1986)
2.      JOHN W. BEST
TEORI pada dasarnya berisi penggambaran hubungan sebab akibat diantara variable – variable. Suatu TEORI di dalam dirinya terkandung keunggulan untuk bisa menjelaskan suatu gejala dan TEORI juga berkekuatan untuk memprediksi sesuatu gejala.
3.      EMORY – COOPER
Teori merupakan suatu kumpulan konsep, definisi, proposisi, dan variable yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan telah digeneralisasikan , sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi suatu fenomena (fakta-fakta) tertentu
4.      PROF. DR. WINARNO SURAKHMAD
TEORI menjalin hasil pengamatan kedalam suatu pengertian utuh yang memungkinkan ilmuwan membuat pernyataan umum tentang variable – variable dan hubungannya.
5.      SUMARDI SURYABRATA
Teori – teori, konsep – konsep merupakan landasan teoritis bagi penelitian yang akan dilakukan. Landasan ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba – coba (Trial and Error). Untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal tersebut di atas, seseorang harus melakukan penelaahan
kepustakaan. Oleh karena itu, sumber bacaan merupakan bagian dari penelitian yang esensial.
6.      MANNING
Teori adalah seperangkat asumsi dan kesimpulan logis yang mengaitkan seperangkat variabel satu sama lain. Teori akan menghasilkan ramalan-ramalan yang dapat dibandingkan dengan pola-pola yang diamati.
Oleh           : Vera Andriyana
NIM           : 13/ 357519/PKU/14120
MINAT      : SDM.KESEHATAN