Saturday, May 10, 2014

Mind Mapping

Nama: Indah Purnama
Nim   : 13/354334/PKU/13875




6th International Conference on Information Technology and Electrical Engineering. Yogyakarta 7-8 October 2014, http://icitee2014.te.ugm.ac.id. Indexed by IEEEXplore.

Monday, May 5, 2014

HUMAN RESOURCE LEADERSHIP: THE KEY TO IMPROVED RESULTS IN HEALTH

HUMAN RESOURCE LEADERSHIP: THE KEY TO IMPROVED RESULTS IN HEALTH

Kepemimpinan menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi organisasi. Seorang pemimpin memegang peran penting karena keberadaannya dapat menentukan gerak maju organisasi. Sikap atau gaya seorang pemimpin akan mewarnai kegiatan operasional organisasi sehari-hari. Sekarang ini pemerintah Indonesia sedang berusaha untuk mewujudkan suatu kondisi masyarakat Indonesia yang sehat baik secara fisik maupun mental. Pemerintah menyadari akan arti penting masyarakat yang sehat dalam mendukung pembangunan negara. Pembangunan akan sulit berjalan lancar jika kondisi masyarakatnya kurang sehat. Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk mampu menciptakan suatu sistem pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas sehingga dapat diandalkan pada saat dibutuhkan tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi maupun non ekonomi. Hal ini berarti pemerintah perlu memiliki sosok pemimpin yang mampu mengatasi masalah dalam peningkatan sistem pelayanan kesehatan sehingga semua lapisan masyarakat baik dari kalangan bawah sampai kalangan atas dapat memanfaatkannya. Upaya pemerintah ini secara formal nampak jelas yang menyatakan bahwa salah satu tujuan yang hendak dicapai pembangunan di bidang kesehatan di Indonesia pada saat ini adalah mencapai masyarakat, bangsa dan negara di mana penduduknya memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata.
Leadership Development Program (LDP) didasarkan pada konsep kepemimpinan yang berbasis kompetensi (competency-based leadership) yang telah melalui serangkaian riset dan terbukti mampu mengubah/meningkatkan kualitas perilaku kepemimpinan individu. Bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan para Unit Manager agar mampu mengembangkan visi bisnisnya, meningkatkan kemampuan dalam menetapkan sasaran kerja serta mengarahkan tim dalam mencapai sasaran. Dapat mengembangkan komunikasi dua arah dan efektif serta membimbing timnya agar mampu memahami tugas dan dapat berprestasi secara optimal, mampu meningkatkan motivasi kerja timnya melalui reward, counseling, maupun melalui penilaian prestasi yang objektif. Mampu menerjemahkan strategi SDM ke dalam sistem dan praktik yang menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan.
Menurut Manderbacka, Kristiina:BMC Public Health. 2013 : Sementara perilaku kesehatan dan faktor gaya hidup lainnya yang penting dalam memberikan perbedaan kontribusi bagi kesehatan, beberapa peneliti telah menyarankan bahwa beberapa perbedaan kematian disebabkan faktor gaya hidup bisa dicegah dengan langkah-langkah kebijakan kesehatan dan perawatan kesehatan. Oleh karena itu pentingnya kebijakan kesehatan dan pelayanan kesehatan dalam menanggulangi ketidaksetaraan kesehatan, sosial dan ekonomi.
WHO (2010) Perumusan Sumber Daya Manusia Nasional (HRH) kebijakan kesehatan dan strategi membutuhkan perencanaan berbasis bukti untuk merasionalisasi keputusan.Berbagai alat dan sumber daya yang ada untuk membantu negara-negara dalam mengembangkan rencana strategis HRH nasional. Rencana seperti itu biasanya meliputi jangka pendek dan panjang  target dan perkiraan biaya untuk scaling up pendidikan dan pelatihan untuk kesehatan pekerja, mengurangi ketidakseimbangan tenaga kerja, memperkuat kinerja staf, meningkatkan retensi staf dan beradaptasi dengan setiap sektor kesehatan utama reformasi, sementara juga diselaraskan dengan strategi yang lebih luas untuk sosial dan pembangunan ekonomi.
Global Health Workforce Alliance, USAID and WHO (2009) Kerangka Aksi meliputi enam bidang tindakan yang saling terikat dalam HAF ( Health Action Framework ) adalah :
1.      Systems HRM
2.      Leadership
3.      Policy
4.      Finance
5.      Education
6.      Partnership
Keenam faktor di atas merupakan faktor kunci dan penentu keberhasilan dalam meningkatkan kualitas dan kinerja manajemen SDM Kesehatan serta bagaimana mempengaruhi seluruh kinerja, dalam hal keberadaan, kompetensi, responsivitas dan produktivitas dalam konteks reformasi kesehatan dan perubahan beban masalah kesehatan.
Tenaga kesehatan adalah elemen penting dan integral dari penguatan sistem kesehatan, meliputi berbagai dimensi ketersediaan, distribusi, kualitas dan kinerja . Untuk mengatasi tantangan ini membutuhkan tindakan bersama pada beberapa elemen dari sektor kesehatan dan kebijakan publik pada umumnya, termasuk efektif koordinasi lintas sektoral dan kolaborasi di antara stakeholders diperlukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan beroperasi dalam lingkungan yang kondusif dan menerima dukungan yang dibutuhkan oleh sistem  kesehatan.
Suatu kebijakan dan praktek pengelolaan SDM seringkali gagal diakibatkan karena pengelolaannya tidak berada di tangan profesional . Pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Ini bukan pendekatan tradisional untuk mengembangkan kepemimpinan, akan tetapi lebih ditujukan untuk pemimpin tertinggi dan berfokus pada sifat kepemimpinan dan karakteristik Model ini berfokus pada pengembangan tim yang dapat mengidentifikasi masalah , mencari solusi , dan mendapatkan hasil.
Tidak ada proses yang sederhana untuk mengkaji situasi suatu negara, menentukan prioritas, memilih solusi dan merancang tahapan investasi yang tepat untuk peningkatan di sektor kesehatan. Banyak faktor harus dipertimbangkan termasuk ketersediaan data yang handal, kelayakan teknis dan politis suatu kebijakan dan nilai tiap aktor kunci dalam proses kebijakan.
Daftar Pustaka :
Adano U (2006). Collection and analysis of human resources for health (HRH) strategic plans. Chapel Hill, NC: Capacity Project (http://www.capacityproject.org/images/stories/files/resourcepaper strategicplans.pdf, accessed 19 November 2009)
Global Health Workforce Alliance, USAID and WHO. (2009) Human Resource for Health Action Framework (HAF): Guide to Develop and Implement Strategies to Achieve an Effective and Sustainable Health Workforce. Management Sciences for Health: Cambridge.
Manderbacka et al. BMC Public Health 2013, 13:812 http://www.biomedcentral.com/1471-2458/13/812
WHO. (2010) Models and tools health workforce planning and projections Human Resources for  Health Observer, 3. WHO: Geneva
OLEH   :  TIEN INDRAWATI
NIM     :  13/357383/PKU/14099
MINAT :  SDM KESEHATAN

Sunday, May 4, 2014

Pengertian teori dan teori yang berhubungan dengan artikel “ Cost-effectiveness analysis of human resources policy interventions to address the shortage of nurses in rural South Africa ”

Nama : Indah Purnama
Nim   : 13/354334/PKU/13875

Pengertian teori dan teori yang berhubungan dengan artikel " Cost-effectiveness analysis of human resources policy interventions to address the shortage of nurses in rural South Africa "

 @ Pengertian teori menurut beberapa ahli sebagai berikut:
 
Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, defenisi dan dalil yang saling berhubunganyang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.
Labovitz dan Hagedorn mendefenisikan teori sebagai ide pemikiran "pemikiran teoritis" yang mereka defenisikan sebagai "menentukan" bagaimana dan mengapa variabel-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan.
Jonathan H. Turner, teori adalah sebuah proses mengembangkan ide-ide yang membantu kita menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi
 Littlejohn  & Karen Foss, teori merupakan sebuah system konsep yang abstrak dan hubungan-hubungan konsep tersebut yang membantu kita untuk memahami sebuah fenomena.
 Kerlinger, teori adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya yang mengandung suatu pandangan sistematis dari suatu fenomena
 Nazir, teori adalah pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian'
Steven, teori adalah suatu pernyataan yang isinya menyebabkan atau mengkarakteristikkan beberapa fenomena.
Fawcet, teori adalah suatu deskripsi fenomena tertentu, suatu penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau ramalan tentang sebab akibat satu fenomena pada fenomena yang lain.
 Travers, a theory consist of generalizations intended to explain phenomena and that the generalizations must be predictive. Teori terdiri dari generalisasi yang dimaksudkan untuk menjelaskan dan memperdiksi sebuah fenomena.

@@Teori yang berhubungan dengan artikel " Cost-effectiveness analysis of human resources policy interventions to address the shortage of nurses in rural South Africa "
Mylene Lagarde a,*, Duane Blaauw b, John Cairns c

Teori Efektivitas

Menurut Ravianto (1989:113) pengertian efektivitas adalah seberapa baik pekerjaan yang dilakukan, sejauh mana orang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang diharapkan. Ini berarti bahwa apabila suatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan perencanaan, baik dalam waktu, biaya maupun mutunya, maka dapat dikatakan efektif.

Ndraha (2005:163) efisiensi digunakan untuk mengukur proses, efektivitas guna mengukur keberhasilan mencapai tujuan. Khusus mengenai efektivitas pemerintahan, Ndraha (2005:163) mengemukakan: "Efektivitas (effectiveness) yang didefenisikan secara abstrak sebagai tingkat pencapaian tujuan, diukur dengan rumus hasil dibagi dengan (per) tujuan. Tujuan yang bermula pada visi yang bersifat abstrak itu dapat dideduksi sampai menjadi kongkrit, yaitu sasaran (strategi). Sasaran adalah tujuan yang terukur, konsep hasil yang relatif, tergantung pada pertanyaan, pada mata rantai mana dalam proses dan siklus pemerintah, hasil didefenisikan. Apakah pada titik output? Outcame? Feedback? Siapa yang mendefenisikannya: Pemerintah, yang diperintah atau bersama-sama.

Benard (dalam Prawirosoentono, 1997:27) berpendapat "Accordingly, we shall say that an action is effective if it specific objective aim. It is efficient if it satisfies the motives of the aim, whatever it is effective or not" Pendapat ini antara lain menunjukkan bahwa suatu kegiatan dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan yang telah ditentukan,

Mengutip Ensiklopedia administrasi, (The Liang Gie, 1967) menyampaikan pemahaman tentang efektivitas sebagai berikut: Efektivitas adalah suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki, kalau seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang dikehendaki, maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan atau mempunyai naksud sebagaimana yang dikehendaki.








6th International Conference on Information Technology and Electrical Engineering. Yogyakarta 7-8 October 2014, http://icitee2014.te.ugm.ac.id. Indexed by IEEEXplore.

Friday, May 2, 2014

Tabel : Analisis Perbandingan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niatan Tenaga Kerja Untuk Tetap Bekerja/Berhenti Sebagai Tenaga Kesehatan

Faktor
Karakteristik terkait
(variabel yang diukur)
Niatan Tetap bekerja

Niatan Berhenti
Waktu Bekerja
Tenaga kerja full-time/part-time
Bekerja full-time memiliki niatan lebih besar untuk tetap bekerja, sebagai komitmennya terhadap pekerjaan
Tenaga kesehatan lepas dengan jumlah jam kerja tidak menentu,  memiliki niatan untuk berhenti lebih besar.
Jam kerja yang tidak
 standar (jam kerja panjang dan adanya lembur)
Jam kerja yang sesuai standar dan tidak adanya shift/lembur malam lebih memiliki niatan untuk tetap bekerja
Jam kerja tenaga kesehatan yang panjang dan adanya shift/lembur malam, cenderung mengurangi niatan untuk tetap bekerja.
Waktu perjalanan ke/dari tempat kerja
Waktu perjalanan yang dekat ke tempat kerja menyebabkan niatan untuk tetap bekerja
Waktu perjalanan pulang-pergi yang lama ke tempat kerja akan mengurangi niatan untuk tetap bekerja
Gaji/Upah
Kenaikan Gaji/Upah
Adanya kenaikan gaji/upah akan meningkatkan niatan untuk tetap bekerja
Tidak ada kenaikan gaji/upah akan mengurangi niatan untuk tetap bekerja
Kondisi /Lingkungan
Pekerjaan
Kondisi/lingkungan pekerjaan yang menarik dan stabil meningkatkan niatan untuk tetap bekerja
Kondisi/lingkungan pekerjaan yang tidak menarik dan tidak stabil mengurangi niatan untuk tetap bekerja
Kepuasan terhadap
Gaji
Tenaga kerja yang puas terhadap gajinya meningkatkan niatan untuk tetap bekerja
Tenaga kerja yang tidak puas terhadap gajinya mengurangi niatan untuk tetap bekerja
Adanya faktor tambahan (sebagai kontrol) dilihat berdasarkan :
1.        Jenis kelamin (Wanita dan laki-laki)
2.       Klasifikasi tingkat pendidikan (Rendah, sedang, tinggi)
3.       Status migrasi (Penduduk asli dan pendatang)
4.      Jumlah anak lebih dari satu (iya dan tidak)
5.   Jenis tenaga kesehatan (Dokter, Perawat, Tenaga Farmasi, Asisten Farmasi, dan tenaga kesehatan lainnya)
6.      Mempunyai  kontrak permanen/SK (iya dan tidak)
7.       Mempunyai posisi sebagai supervisor (iya dan tidak)
8.      Sebagai tenaga magang (iya dan tidak)
9.      Ukuran organisasi (dibawah 100 dan diatas 100)
10.    Pekerjaan di sektor publik (iya dan tidak)
11.     Tingkat pengangguran di negara tersebut (tinggi, rendah)
Wessy Yuliza (13/357561/PKU/14133)

Adanya f